Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Legend of Betsy beaumont

Urban legend yang terkenal di antara anak-anak pramuka. Betsy Beaumont menikah dengan Joe Beaumont dan bercita-cita menjadi seorang penyanyi. Harapan yang tak kesampaian, karena pada suatu malam, Betsy mengalami kecelakaan mobil parah sampai ia hanya dapat diidentifikasi melalui cincin pernikahannya. 

Karena sedih, Joe membeli sebuah bumi perkemahan dan menamainya Beaumont untuk mengenang Betsy. Ketika ia meninggal, Joe menyerahkan tanahnya kepada PERKUMPULAN PRAMUKA AMERIKA. 

Nah, si Betsy ini sebenernya nggak suka banget sama pramuka. Makanya sampai sekarang pun arwah si Betsy ini diceritakan masih suka berkeliaran di tanah perkemahan milik almarhum suaminya itu. 

Kalau ada pramuka yang melihatnya, mereka harus melihat matanya. Kalo si Betsy ini matanya biru, tandanya dia sedang senang dan nggak akan melukaimu. Kalau matanya merah, hmm... 
Bersiaplah pulang tinggal nama. Si Betsy ini juga suka latihan menyanyi tengah malam. Dan dia SANGAT TIDAK SUKA dikomentari nyanyiannya. Jadi kalau agan mendengar dia menyanyi, paling baik agan diem aja dan berdoa sampe dia selesai nyanyi. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SUMPAH BUKAN PEMUDA INDONESIA


Ditulis Oleh Shodiq Adi Winarko   
06-11-2011,
Pemuda harus menjadi pelaku aktif dan kritis, guna mewujudkan Indonesia menjadi negara maju dan disegani negara lain. Pemuda musti mempersiapkan diri dengan memperbanyak ilmu pengetahuan, memperkuat mental, fisik, serta menciptakan karakter kepribadian yang kuat, agar dapat menjaga persatuan, kesatuan, dan martabat bangsa.”
Ketegasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam memperingati hari Sumpah Pemuda di atas, menggambarkan tantangan masa depan para pemuda Indonesia di masa mendatang. Sebuah tantangan yang semestinya mendapat tanggapan positif dari seluruh pemuda di Indonesia. Sebagai harapan masa depan, semestinya pemuda-pemuda Indonesia mampu mengimplementasikan nilai-nilai juang para pelaku sejarah. Bukan sebaliknya, mencoreng nama baik dan eksistensi juang para pemuda masa lalu. Yaitu dengan tindakan-tindakan amoral ataupun perbuatan-perbuatan no sense rutin mereka.
            Padahal, wajah Indonesia masa depan sebagian tergambar pada potret para mahasiswa masa kini.  Eksistensi, kemampuan, kiprah dan peran pemuda sangat menentukan masa depan bangsa. Di masa lalu, eksistensi Indonesia sangatlah ditentukan oleh kepiawaian dan kekuatan para pemuda dalam menopang beban bangsa ini. Sungguh sebuah posisi strategis bagi para pemuda dalam arus sejarah bangsa. Namun, apakah potret pemuda masa kini telah mencerminkan sosok pelaku sejarah Indonesia masa silam?
            Lihat, tindakan amoral para siswa SMAN 6 terhadap seorang wartawan Harian Kontan, di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, Senin (19/9/2011). Sebuah tindakan amoral yang bermula dari aksi protes para wartawan, terkait kasus perampasan kamera video dan pemukulan salah satu wartawan Trans 7, Angga Oktaviardi, pada Jumat 16 September 2011. Tepatnya, ketika dirinya sedang merekam aksi tawuran antara dua sekolah menengah atas di kawasan Blok M, Jakarta, yang berlanjut dengan kekerasan selanjutnya pada Senin, 19 September 2011, di SMUN 6 Jakarta.
            Jelas, pemandangan seperti itu tidak mencitrakan sosok pemuda Indonesia yang sebenarnya. Berbeda dengan sosok pemuda masa lalu yang menjadi penopang kelanjutan eksistensi bangsanya. Pemuda yang berani mengubur sifat hedonisnya demi memperjuangkan nama baik bangsa. Pemuda skeptis yang sadar akan peran dan fungsi dirinya terhadap bangsa.
            Apalagi potret sebagian kalangan mahasiswa sekarang, yang seakan mengalami stagnisasi nasionalisme. Bayangkan, di saat hak-hak rakyat Indonesia belum sepenuhnya diperoleh, sikap hedonis para elite negara, atau bahkan sikapsurvive pemerintah dalam menghadapi permasalahan-permasalahan bangsa, sebagian mahasiswa seakan hanya bisa diam.        
            Setengah dari para mahasiswa Indonesia, lebih memilih diam, merasa tega melihat kondisi rakyat yang menderita. Setiap harinya, mereka disibukkan oleh rutinitas kampus. Mulai dari membuat makalah, berdiskusi di kelas, kemudian kembali ke tempat asalnya, kos. Atau bahkan, area hotspot yang ditunjang dengan berbagai fasilitas memadai, membuat para mahasiswa tergiur untuk “nongkrong” bersama teman-temannya, melupakan essensi perkuliahannya.
            Ironisnya, ternyata aktivitas kuliah mereka hanya berlandaskan keinginan agar terbebas dari tanggung jawab saja, tanpa mengeksplor manfaat yang telah diperoleh. Berbagai tugaspun hanya dijadikan kewajiban dan beban semata. Jika demikia, lalu kontribusi apakah yang dapat mereka sumbangkan untuk bangsa ini, sedangkan rakyat Indonesia masih menaruh harapan besar kepada para mahasiswa itu?
 Jadilah Sosok Historis!
            Sejarah memang penting. Dengan mengetahui sejarah eksistensi para pemuda dalam memperjuangkan bangsa Indonesia, kita pun akan tersetrum api semangat mereka. Fakta sejarah menetapkan, tanggal 28 Oktober 1928 adalah tanggal yang dijadikan Hari Sumpah Pemuda. Sebuah sumpah yang menjadi bukti otentik, bahwa telah lahir di dunia ini suatu bangsa bernama Indonesia.
            Keberanian mereka terlihat saat beberapa pemuda dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul untuk menyatakan bahwa mulai hari itu, hanya ada Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa yaitu Indonesia. Peristiwa itu bertempat di jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat, sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda.
            Jelas, melakukan sumpah seperti itu di masa ketika polisi kolonial masih sangat kuat, membutuhkan keberanian luar biasa. Apalagi sebelum pembacaan teks Sumpah Pemuda, sebuah lagu “Indonesia Raya” diperdengarkan terlebih dahulu. Sungguh merupakan perbuatan yang sangat berani dalam upaya memperjuangan Tanah Air Indonesia.
            Maka, patut kiranya jika setiap tanggal 28 Oktober, kita selalu memperingatinya sebagai hari Sumpah Pemuda. Memperingati hari Sumpah Pemuda adalah sesuatu yang seharusnya dan menjadi bagian dari rasa hormat kepada para pendahulu. Sumpah Pemuda juga merupakan sebuah manifestasi dari gagasan-gagasan para pelaku sejarah.
            Ingatlah, sewaktu Soekarno mengatakan “bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa para pahlawan.” Kalimat itu terucap bukanlah untuk mengkultuskan dirinya sebagai pahlawan, akan tetapi ia sedang menegaskan, bahwa bangsa yang beradab haruslah mengenali sejarahnya sendiri. Karena itu, Soekarnopun mengatakan, JAS MERAH (jangan lupakan sejarah).
            Karena itu, meneladani keberanian para pelaku sejarah sangatlah penting. Sebab, percuma jika para pemuda masa kini hanya terjebak dalam kebanggaannya akan peran dan fungsi pemuda di masa silam, tanpa berbuat suatu apapun. Keberhasilan para pemuda di masa silam, hendaknya dapat dilanjutkan oleh para pemuda masa kini. Karena, melanjutkan sejarah dengan pahatan-pahatan sejarah baru rasanya lebih penting, dibandingkan hanya termenung mengagumi keberanian para pelaku sejarah itu.
            Harapan Presiden SBY di awal, haruslah menjadi cambuk bagi para pemuda saat ini. Mampukah mereka menjadi aktor perputaran kemajuan bangsa, melanjutkan etape-etape perjalanan bangsa yang telah dirilis para pendahulu? Sadarkah mereka akan peran dan fungsinya sebagai sosok the agent of change? Dan beranikah mereka melanjutkan tumpahan keringat, darah dan air mata para pelaku sejarah di masa silam? Berbagai pertanyaan yang hanya mampu dibuktikan oleh generasi sekarang.
            Lantas, sekarang, bagaimana caranya agar para pemuda saat ini  dapat menjadi sosok historis? Tentu dengan terus meng-uppgrade diri secara cukup agar mampu tampil sebagai sosok pemuda Indonesia ideal. Pertama, menjadi generasi yang berdikari. Bangsa ini merindukan sosok berdikari yang mampu bertahan dengan kemampuan dirinya dalam menghadapi berbagai rintangan. Dengan kemampuan para pemuda dalam mengejar perannya, yang dilandasi dengan prestasi dan kerja nyata, tentu perubahanpun akan cepat dirasakan bangsa ini. Bukan malah sebaliknya, berharap kepada belas kasih orang tua ataupun senior. Untuk itu memiliki kemampuan bertanding sangatlah diharapkan, hingga dirinya tidak lagi bersandar kepada atasannya.
            Kedua, mempunyai komitmen yang kuat kepada bangsa. Sikap sosialis sangat diharapkan dalam hal ini. Sebab, bangsa ini tidak membutuhkan sosok yang hedonis, namun selalu memikirkan dan memerankan tanggung jawabnya sebagai putra-putri bangsa yang pemberani dan setia. Jangan terlalu sering menafikan tindakan presiden, namun ikutlah serta memberikan solusi-solusi yang konstruktif.
            Ketiga, sadarilah kemajemukan masyarakat Indonesia. Pemuda Indonesia adalah sosok yang tidak akan bisa diombang-ambingkan oleh kemajemukan masyarakatnya, namun mampu menjadi tali kesadaran yang mengikat keindonesiaan rakyat ini. Pluralisme masyarakat Indonesia sudah menjadi kharasteristik khasnya. Maka dengan kenyataan seperti itu, para pemuda seharusnya mampu menjadi sosok fleksibel yang tidak menjunjung suatu ras tertentu.
            Keempat, menjadi sosok pemberani. Saat kebenaran berpihak pada kita, maka janganlah sedikitpun kita takut untuk memperjuangkannya. Para pemuda semestinya berani untuk mengatakan apa yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. Jangan termakan oleh politisasi partai politik maupun elite. Pemuda harus berada di garda depan, memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan ‘malah’ mencari keuntungan personal, demi mendongkrak popularitas.
            Kelima, berakhlak mahmudah. Pendidikan karakter di negeri ini sangatlah minim. Maka sosok bermoral sangatlah diharapkan oleh negeri ini. Sebab, selain pemuda harus mempunyai akhlak sosial dalam bentuk kepedulian terhadap sesama, pribadi merekapun haruslah berakhlak terpuji. Maka dalam hal ini, implementasi daripada nilai-nilai agama sangatlah berperan. Saat pemuda mampu mengimplementasikan nilai-nilai agamanya, maka dimungkinkan ia pun akan menjadi sosok ideal yang diidamkan bangsa ini.
            Terakhir, para pemuda masa kini semestinya mampu mengaplikasikan lima hal di atas, sehingga merekapun akan menjadi sosok historis yang sanggup memutar kencang kemajuan roda kepemerintahan menuju Indonesia yang semakin aman, adil, demokratis dan damai.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HUMOR ALA TIMNAS INDONESIA


JAKARTA -  Seorang pemuda Papua mengungkapkan cintanya pada seorang gadis. Begini dialognya:
Humor ala Timnas
Pemuda : "Ade, beta su lama jatuh cinta ke ade. Ade mau jadi kaka pu pacar ka?"
Cewek : "Adooo, kaka. Tra bisa. Sa masih sekolah."
Pemuda : "Ooooo.. kaka kira ade sudah libur
Dialog di atas hanyalah sepenggal kisah humor yang selalu jadi bagian dari keseharian masyarakat Papua. Humor Papua pun tidak kalah jenaka bila dibanding kisah lenong di Betawi atau ketoprak ala Jawa. Humor ala Papua, canda ala Ketoprak, dan ulah bak lenong inilah yang membuat tim nasional Indonesia terasa segar.
Aktor utama dari humor di timnas adalah seorang asli Jayapura bernama Oktovianus Maniani. Uniknya rekan Okto dalam menebar tawa di tiap latihan timnas tidak lain adalah seorang asli batak yang lama menggembara di tanah Wamena, Ferdinand Alfred Sinaga.
Simak saja salah satu ulah jenaka keduanya saat sesi latihan jelang Sea Games.  "Okto!! Okto!! tegur Ferdinand Sinaga dengan muka yang memancarkan senyum.
Dari senyumannya, terselip ide jahil di kepala Ferdinand. "Okto!!!!" tegurnya kali ini dengan volume suara yang meninggi.
"Ada apa, saya sudah dengar," balas Okto yang sibuk memasang tali sepatu. Kegiatan Okto saat itu memang hampir dua menit dihabiskan oleh kegiatan memakai sepatu yang tak kunjung melekat.
Ferdinand pun menyahut. "Oh, saya kira kamu tidak dengar. Mungkin sinyal lagi buruk," kata Ferdinand kalem. Pernyataan yang langsung dibalas Okto. "Ya sudah lah, kau kirim saja SMS saja," jawabnya sambil tertawa kecil.
Ferdinand pun menjelaskan makusd perkataannya.
"Okto, lebih baik kalau Irfan (Bachdim) tidak mau ngomong, mending wartawan wawancara anaknya saja. Ini si Andik (Vermansyah)," ujar Ferdinand merespon aksi Irfan Bachdim di pinggir lapangan yang terus bungkam ketika dikerubungi awak media perihal pencoretannya dari timnas. Pernyataan yang sekaligus melepaskan lelucon ke arah Andik yang terlihat ibarat bocah karena bertinggi badan hanya sekitar 158 sentimeter.
Canda di LapanganBaru serius sejenak, suasana latihan mendadak cair kembali karena ulah Okto yang kali ini menebar tawa bersama Diego Michiels di tengah lapangan. Diego, naturalisasi asal Belanda, awalnya tampak sangat bersemangat untuk "mengerjai" Okto dalam bermain game kecil.
Okto, yang bertindak sebagai perebut bola, coba dikecohnya dengan menendang bola melewati kolong kaki pemain asal Papua itu. Tapi, usaha tersebut gagal. "Tidak bisa. Hahahaha..." kata Okto tertawa lepas ke arah Diego. Secara spontan Diego menedang bagian bokong Okto yang melompat kesenangan.
Aksi jenaka pun terjadi saat timnas melakoni partai persahabatan lawan Timor Leste. Dan kembali aktor dari humor di timnas tidak lain adalah: Okto. Pemain bertubuh mungil yang kerap tersenyum dengan gigi putih bersinarnya itu memulai aksi jahilnya di bangku stadion.
Okto, yang di babak kedua partai lawan Timor Leste ditarik keluar pelatih Rahmad Darmawan, memilih membaur di bangku Stadion yang di sana sudah ada dua rekannya sesama Papua, Titus Bonai dan Stevie Bonsapia.
“Hey.. jangan terlalu memegang bola!” ujar Okto yang berteriak bak pelatih. “Jangan dibawa pulang bola,” kata Okto yang memancing tawa sekitar 500 penonton.
Tawa Okto pun langsung pecah ketika menyaksikan aksi Andik yang terpeleset di mulut gawang Timor Leste. Padahal, saat itu Andik sudah mengelabuhi tiga pemain lawan dengan aksi gemilang. Ketika ingin mengeksekusi bola ke gawang yang kosong, pemain asal Surabaya ini justru menendang angin dan melayang tidak karuan.
Sontak Andik terpelating membentur rumput dengan kaki yang berada di atas kepala. “Hahahahahaha…” tawa Okto terdengar nyaring.  
Kena BalasUlah jenaka pun terjadi di laga perdana timnas kontra Kamboja. Kali ini Okto yang justru terkena tulah akibat ulah jahilnya ke Andik di laga kontra Timor Leste.
“Okto…” teriak pelatih Rahmad Darmawan mengingat kan sang pemain yang terlalu asik bermain individu. Menyadari kesalahannya, Okto pun langsung memegangi kepala sembari menggeleng-geleng.
Seusai laga, kejadian kocak sempat terekam di dalam bus yang akan mengantar timnas ke hotel. Kejadian ini berasal saat bus timnas hendak meninggalkan Stadion. Tepat di depan kantor PSSI, sejumlah stand promotion girl (SPG) tengah berdiri tepat di samping bus timnas.
Entah karena didorong rasa humor atau naluri lelaki, hampir sebagian pemain timnas langsung berebut ke kaca bus untuk menyapa sekitar enam wanita yang memiliki paras bak artis itu. Sontak aksi ini dihadiahi tawa oleh para SPG. “hahahaha,” spontan keenam SPG tertawa.
Kejadian segar dan homur ala timnas ini bisa direfleksikan sebagai cermin bahwa 20 skuat Garuda dalam kondisi psikologi yang baik untuk tampil di Sea Games. Tidak ada ketegangan atau tekanan yang terekam di keseharian mereka.
Semoga tawa ini jadi pertanda yang baik agar tawa pulalah yang tercipta di akhir keikutsertaan mereka di Sea Games. Tawa juara dengan raihan emas Sea Games ke 26 untuk cabang sepak bola…

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LIMBAH FREEPORT 40 KALI BANTAR GEBANG


JAKARTA - Manajer Kampanye Tambang dan Energi, Pius Ginting mengatakan bahwa PT Freeport perharinya membuang limbah sebanyak 240 ribu ton.
Jika disamakan, limbah tersebut sama dengan 40 kali limbah yang ada di Bantar Gebang.
"Jumlah limbah sebesar 240 ribu ton itu sama saja 40 kali limbah yang ada di bantar gebang," ujar Pius dalam dialog bersama membahas PT Freeport di Papua yang digelar di LBH Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (9/11/2011).
Pius menjelaskan, setiap harinya, Freeport membuang limbahnya melalui sungai Wanagom, Papua, dan terus mengalir ke bagian rendah yakni sungai Atsua untuk ditampung.
"Padahal, menurut peraturan pemerintah (PP) tentang kualitas air, dilarang untuk membuang limbah di media air," jelasnya.
Selain itu, Pius juga menjelaskan, tingginya kadar Co2 yang ada di sekitar tambang itu tidak wajar yakni ribuan liter setiap bulan.
Pasalnya, di area sekitar tambang tersebut tingkat kemajuan penduduknya masih minim, sedangkan hanya kota maju saja yang tingkat kadar Co2 nya tinggi.
"Tingkat kadar Co2 di sekitar tambang sama dengan tingkat Co2 di kota Phoenix, USA dimana di sana terletak kantor pusat Freeport," jelas Pius.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perusahaan Malaysia Bantai Orangutan Kalimantan


Perusahaan Malaysia Bantai Orangutan Kalimantan
JAKARTA - Keberadaan orangutan di Kalimantan Timur terancam. Mereka terus dibantai, sebagai dampak dari pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA Kaltim) dan Centre for Orangutan Protection (COP) telah mengevakuasi sedikitnya empat orangutan dari Muara Kaman, di sekitaran kawasan konsesi PT Khaleda, anak perusahaan Metro Kajang Holdings Berhad Malaysia dan PT Anugerah?Urea Sakti.
Juru kampanye COP Hardi Baktiantoro, mengatakan puluhan ekor orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) tewas mengenaskan di area perkebunan kelapa sawit di sekitaran Kutai Kartanegara. Hardi menuding, meski para pemburu bayaran itu mengaku telah membunuh banyak induk orangutan dan para pekerja mengakui perbuatan menyebarkan pisang yang sudah disemprot furadan untuk meracuni orangutan.
Sayangnya hingga hari ini, polisi tidak juga menetapkan seorang pun jadi tersangka dan tidak ada yang dipenjara. "Ini mengecewakan dan membahayakan bagi kelangsungan hidup orangutan," ujar Hardi dalam siaran pers yang diterima Republika.
Situasi yang sama terjadi di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur. Pada 26 Juli 2011, BKSDA dan COP terpaksa mengevakuasi dua orangutan. Satu induk orangutan diidentifikasikan dibunuh para pekerja sawit Makin Group. Dikatakan Hardi, ketika kuburannya orangutan dibongkar untuk mengetahui penyebab kematiannya.
Hasil identifikasi menyatakan, mayat orangutan tersebut babak belur seperti terkena pukulan yang dilakukan berulangkali, kedua pergelangan tangannya luka dan jarinya putus.
Adapun di Kalimantan Tengah, COP mengidentifikasi satu tengkorak orangutan di sekitaran areal konsesi PT TASK dan mengevakuasi tiga anak orangutan yang ditangkap pekerja setempat. "COP juga menemukan empat tengkorak orangutan di areal konsesi Wilmar Group pada 20 Agustus 2011."
Hardi menilai kematian puluhan orangutan bukan terjadi karena konflik manusia dengan jenis binatang primata tersebut, melainkan upaya genocide (pembunuhan massal) kelompok tertentu yang rakus untuk meraih keuntungan pribadi. Pihaknya menyentil pemerintah yang harusnya berani melihat kenyataan bahwa polisi tidak membuat kemajuan apapun untuk mencegah kepunahan orangutan di Kalimantan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS